dari tahun ke tahun, bulan November-Desember adalah bulan paling panas di Bali. Seperti sekarang ini - suhu udara stabil di antara 33-35 °C siang hari. Atau hanya 2°C dibawah suhu tubuh normal. Bagi anda yang tidak terbiasa dengan udara yang relatif panas ini, tak ada pilihan
lain kecuali berharap penghujung musim panas ini akan segera berlalu dan berganti musim
hujan yang lebih menyejukan.
Tapi anda juga harus siap2 berbeda keinginan dengan pelaku wisata yang berharap bahwa
cuaca seperti ini berlangsung terus menerus.. Matahari yang terik membuat laut terlihat lebih
indah, biru menawan akibat pantulan dari birunya langit. Panas juga membuat kegiatan wisata lebih menarik dan menantang, membuat pemandangan indah dan sebagainya.
Ratusan kilometer sebelah Barat pulau Bali, banyak daerah kesulitan air, sawah dan ladang kering kerontang, tidak ada air untuk disiram-kan bahkan untuk air minumpun harus didatngkan dari jauh, atau bersatu dengan air cucian. Ironis negara tropis dengan sumber air
melimpah, rakyatnya harus kesulitan air.
Perkiraan para ahli lingkungan tentang pemanasan global ternyata meleset, pemanasan yang diprediski akan berlangsung cepat, ternyata akan jauh lebih cepat dan besar dari yang sudah diramalkan. Amerika sebagai biang keladi dan penyumbang terbesar bagi pemanasan global kini akan diikuti China. Proses energy kedua negara ini cukup membuat bumi menjadi semakin panas secara signifikan.
Bali dilanda panas yang begitu menyesakan. Keringat keluar sendiri tanpa perlu susah payah
berolah raga. Karena ingin sejuk banyak akhirnya yang menguras tabungan membeli AC, namun sialnya ternyata Bali belum juga selesai dari krisis listrik. Jadi.. ya terima aja, salah sendiri pingin hidup di negeri tropis yang miskin energy.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment