Siapa bilang Bandung sejuk?? Bandung dingin?? mungkin dulu iya, tapi coba sekarang anda jalan-jalan di kota Bandung yang tahun konon berjuluk Paris van Java itu!! Percaya atau tidak, kota yang berada 700 m di atas permukaan laut itu pada hari Jumat tgl 6 Oktober 2006 bersuhu udara 38 derajat celsius?? sedangkan hari-hari sekitar itu berkisar 30-34 derajat celsius (siang hari) sedangkan malam hari 24-27 derajat celsius. Cukup panas bukan??Duh jadi inget akhir tahun 70 dan awal 80-an, setiap bulan-bulan perubahan musim dari panas ke hujan atau sebaliknya kota Bandung selalu diselimuti kabut dipagi hari. Berangkat ke sekolah jalan kaki menembus kabut, kadang jarak pandang tak lebih dari 50 meter, sama dengan jarak pandang kabut asap yang melanda sebagian negeri ini tiap tahun. Bedanya tentu saya dulu tidak harus memakai masker, karena embun pagi tidak menyesakan dada atau menghancurkan paru-paru.
Oh iya satu lagi, kalo nggak salah sekitar tahun 84-85 dilakukan penanaman pohon kihujan dan mahoni di beberapa jalan. Baru setelah 20 tahun lebih saya bisa merasakan sendiri manfaat penanaman pohon tersebut. Kini batangnya kira2 sebesar pelukan saya dengan tinggi di atas 10 meter. Sangat terasa untuk menangkal sinar matahari langsung dan suhu di atas 30 derajat.
Perubahan cuaca memang terjadi di seluruh belahan bumi, bukan hanya di Bandung. Harusnya manusia diseluruh bumi menyadari bahwa perubahan cuaca mempunyai dampak merugikan begitu besar dan luas, namun nyatanya hutan-hutan di bumi kita bukan mengasilkan O2 yang diperlukan mahluk hidup, tetapi malah menghasilkan CO2 hasil bakaran hutan.
Harusnya kita juga mengambil hikmah dari kasus Bandung, bahwa menebang pohon hanya perlu waktu kurang dari 10 menit, sementara untuk menumbuhkan pohon hingga berguna buat kita perlu waktu 20 tahun lebih. Bila kita menanam pohon sekarang, anak-anak kitalah yang merasakan manfaatnya. Tindakan kita sekarang tergantung seberapa besar kita menyayangi anak cucu kita..
No comments:
Post a Comment