
maaf, tulisan ini masih soal Bandung.
FO, distro, sampah, mall, resto, makanan dan tentu mojangnya yang geulis-geulis, apa lagi yah? outdoor? cewek dan mami kampus? aahh cerita yang tidak ada habis-habisnya.
Selalu ada resiko dalam berusaha, satu FO tutup dua FO yang lain tumbuh, satu resto bangkrut pasti ada gantinya. Cabang bertambah atau merek berganti dan trend terus berubah. Kartika Sari usang berganti brownies kukus Amanda yang ternyata umurnya diperkirakan tidak akan lama. Sementara rumah makan ampera makin berjaya dengan cabangnya bagai tentakel gurita.
Bandung memang tidak seperti Bali yang bergantung hanya pada satu sumber besar, Parawisata. Bandung juga adalah produksi sementara Bali jualan jasa. Bom bisa melumpuhkan Bali, tapi pasti tidak akan terjadi di Bandung. Yang akan membunuh Bandung adalah matinya kreatifitas.
Belum ada kota dimana mall bisa disaingin toko dan distro. Jaringan Fastfood dan foodcourt tak juga bisa mengalahkan resto dan rumah makan lokal. Sementara produk lokal, baju, jaket, tas, sepatu bagai raja di negara sendiri. Istilahnya memakai produk lokal bandung sama gengsinya dengan merek adidas, nike, rebook dll. Toko buku kecil juga marak selain di Jogyakarta.
Memang tak ada habisnya menceritakan Bandung yang juga sempat santer sebagai kota sampah, kota pak ogah, perempatan seribu pengamen. Seperti menceritakan mutiara yang terpendam lumpur atau juga berbicara soal mencampur susu dengan oli. Berani mencoba? berapa kita mematok harga untuk diri sendiri?
No comments:
Post a Comment