Thursday, September 21, 2006

Me againts capitalism (tribute to pasar Cikaso)

Adalah sebuah pasar tradisional yang letaknya diantara dua pemukiman padat di Bandung, pasar Cikaso namanya. Dari jaman baheula hingga jaman nirkabel seperti sekarang, pasar ini tidak bertambah luas, tidak juga bertambah besar. Karena lokasinya memang tidak memungkinkan untuk diperluas. Akhir tahun 90anpasar ini dipugar, lantai yang semula tanah jadi di semen, dinding papan menjadi tembok begitu pula atapnya dari genting menjadi asbes dan tinggi.Singkat kata pasar kecil ini menjadi lebih kokoh, tertib, teratur dan bersih.Jumlah loss dan kios tetap, tetapi jumlah lapak bertambah 2x lipat, dan bila ditotal ada kurang lebih 300an pedagang dan puluhan abang becak.

Ikatan emosional saya begitu kuat dengan pasar yang telah menopang kebutuhan ekonomi keluarga kami. Dengan menyewa (akhirnya membeli) dua los yang dijadikan satu, kami telah menjadi bagian dari kegiatan niaga di Cikaso selama lebih 10 thn, satu los diperuntukan untuk saya dan kakak lelaki untuk biaya kuliah. Jualan kami adalah media sekolah, alat tulis dan mainan anak-anak. Segmen market anak2 memang lebih mudah kami hadapi dibandingkan melawan ibu-ibu yang bila menawar harga membuat kami kalang kabut, dan akhirnya barang dilepas walau dengan untung tipis.. pis..

Waktu berjalan terus, tak terasa 7 tahun sudah saya meninggalan pasar Cikaso yang mulai sepi ditinggal pembeli. Pasar tak seramai dulu, peak time-nyapun semakin singkat, bila dulu hingga pukul 2 siang suara tawar menawar masih nyaring terdengar, kini keluh kesah pedagang sudah merebak sebelum jam makan siang mulai.. huh sepiii.. seraya membolak balik barang dagangan.

Koran, internet dan parawisata sekarang menjadi bagian dari keseharian saya dus berita ekonomi tak luput dari perhatian, seperti soal penanaman modal asing yang terbuka lebar dan makin banyak, makro ekonomi yang makin baik. Walau konon belum mampu menggerakan mikro ekonomi, sektor masih riil stagnan. Kini World Bank dan IMF sedang mengadakan pertemuan di Singapore, sekelompok elite bertemu mempertaruhkan jutaan rakyat miskin dibelakangnya. Bila ada kejuaran judi.. maka pertemuan ini adalah pemenangnya. Karena taruhannya paling besar tapi kemungkinan menangnya paling kecil.

Kembali ke pasar Cikaso yang mulai sepi. Dalam 3 tahun pemkot Bandung sukses menggandeng hypermart carefour membuat 2 cabangnya, setelah macro dan akan disusul oleh Giant. Istri pejabat memang lebih nyaman belanja di supermaket, ketimbang pasar, ogah sepatu barunya terkena lumpur. Ekonomi yang berpihak pada rakyat hanya selogan, kunjungan ke pasar tradisional hanya ceremonial belaka, sidak menjelang bulan puasa.

Jujur saja harus diakui bahwa kehadiran kapitalisme di tengah-tengah kita telah membuat ekonomi rakyat terpelanting. Misalkan kehadiran carefour memberi masukan kas daerah dan menambah lapangan kerja hingga 1000 orang, sementara pasar Cikaso yang mungil saja jadi penopang sekitar 350-an keluarga, bagaimana dengan pasar lain yang 2-3x lebih besar? Kemana sih larinya pembeli, padahal tidak ada pasar yang baru, sementara yang lamapun perlahan-lahan menemui ajal. Bila investasi asing makin banyak, GNP makin besar, makro ekonomi bagus, tetapi orang miskin makin banyak tentu pemerintah harus bertanya ada apa? Fundamental ekonomi rakyat sedang sekarat pak!! masa bapak nggak tahu sih??

Bila sukses nanti, pasar Cikaso akan saya beli.. akan saya jadikan kuburan bagi korban-korban kapitalis dan globalisasi.

No comments: