Apa mau dikata alam sudah mempunyai takdirnya sendiri. Walaupun kita mengutuk banjir besar di Jakarta awal February lalu, tak akan membuat alam merubah takdirnya. Percaya atau tidak, planet bumi dan alam tidak mempunyai belas kasihan atas makhluk hidup di dalamnya. Walaupun alam adalah satu-satunya penunjang hidup bagi manusia untuk hidup, alam tidak akan berbaik hati pada kita atau kasihan, lalu turut pada kehendak manusia.
Sejarah Planet Bumi sudah mulai 4 miliar tahun lalu, dari cikal bakal bumi berbentuk gas, kemudian menjadi cair dan lama-lama menjadi keras. Atau ratusan juta tahun lalu saat hujan badai tiada henti. Curahan airnya yang bermiliar-miliar kubik mengisi celah-celah daratan, dan membentuk lautan di permukaan bumi. Tenyata bumi tetap berjalan sesuai takdirnya, tidak terusik atau terganggu oleh perubahan padanya.
Bumi juga melewati juga periode tiada hari tanpa letusan gunung api sehingga udara adalah racun mematikan. Tak ada seorang ahli geologipun yang membantah bahwa dahulu mungkin hanya ada satu daratan saja. Karena pusat bumi masih berbentuk cair dan tidak stabil maka daratan yang di atasnya berubah, bisa membelah, saling menjauh atau bertabrakan..membentuk pulau-pulau, membentuk jurang atau gunung. Hingga sekarang.
Puluhan juta tahun lalu, ada meteor selebar puluhan km menghunjam bumi dengan kecepatan luar biasa. Hasilnya adalah ledakan super dasyat bak ribuan bom nuklir. Debunya saja menutupi sebagian besar langitnya bumi hingga bertahun-tahun lamanya. Lalu cuaca dan udarapun berubah drastis. Hal inilah yang diperkirakan menjadi penyebab punahnya dinausaurus untuk selamanya.
Bumi pernah pula melewati fase dimana seluruh daratannya ditutupi Es. Yang kalau terjadi sekarang dipastikan lebih dari 90% pupulasi mahluk hidup akan mati secara instan. Siapa sangka gurun Gobi di China dulu adalah lautan luas, atau gurun sahara adalah hutan lebat. Padahal saat itu bisa tentu tidak dikenal yang namanya ilegal logging atau pembalakan hutan oleh cukong-cukong berkantong tebal. Explorasi minyak dan batu bara juga belum ada.
Banjir Jakarta lebih kecil dari letusan gunung Krakatau, masih jauh lebih kecil dari gempa dan tsunami Aceh. Letusan gunung api terbesar jaman modern, gunung Tambora pun dilukiskan bagai hari kiamat. Beberapa kerajaan kecil di Sumbawa lenyap selamanya. Letusannya terdengar sampai Jawa Timur, daratan Eropa juga kebagian mendung berminggu-minggu.
Apa mau dikata, oleh kejadian super kecil saja kita tidak sanggup berbuat apa-apa, selain mengumpat atau membantu. Oleh air hujan selama tiga hari tiga malam kita sudah kalang kabut. Jutaan orang gelisah, pemerintah resah. Ini menunjukan betapa kecilnya kita. Oleh longsor rakyat merana, oleh gerakan bumi selebar 5 cm ribuan nyawa melayang sia-sia.
Air laut naik 5 meter secara tiba-tiba seluruh seisi kota bisa porak poranda. Bahkan oleh buah kelapa yang tepat jatuh ke ubun-ubun kita, dokter tebaikpun belum tentu sanggup menyelamatkan jiwa kita.
Nasiib.. nasiib, udah kecil tak berdayapun kita masih sombong. Baru bisa menciptakan gergaji mesin seolah-olah sudah bisa menguasai alam, tebang sana sini. Pohon tumbang memang kelihatan tak berdaya, namun daun yang layu menyebabkan racun tak terserap, akar yang mati menyebabkan air tak meresap. Tanahpun menjadi kering kerontang, kita juga yang sengsara.
Walaupun semua pohon hilang di tebang, bumi tak terpengaruh sama sekali, alam akan terus berjalan pada takdirnya. Bumi pernah melewati berbagai periode dimana tidak mungkin ditinggali makhluk hidup. fase gas, fase cair, fase beracun. Pernah melewat fase hujan badai, fase es, dan letusan gunung api tiada henti. Masalahnya sanggupkah kita bertahan?? Dengan suhu naik 5 derajat, setengah kutub bisa mencair. Oleh perbedaan 5 derajat saja Jakarta bisa banjir sedengkul secara permanen.
Alam hanya tersenyum, karena alam tidak pernah kasihan pada Jakarta..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 comments:
Banjir itu bagian dari pilihan hidup di jakarta, yg tinggal di jakarta santai aja, kenapa situ yg sewot ? huh ..............
tidak ada kata putus asa untuk menyadarkan manusia-manusia menyimpang..
Post a Comment